Find Out!


Image

Kenapa resign, En? | Trus abis ini mau ke mana? | Sayang, lho…

Saya seperti dejavu mendengar pertanyaan itu beberapa minggu lalu. Kalimat tanya itu pernah saya dengar, meluncur deras ke telinga saya sekitar tahun 2010 silam. Sama. Saat saya memutuskan resign dari tempat kerja.

Di mata orang pada umumnya, terlalu bodoh rasanya keluar dari tempat kerja, tanpa memegang pekerjaan pengganti. Tapi ada yang saya yakini jauh-jauh hari, bahwa meninggalkan ketidakberkahan itu akan mendatangkan keberkahan. Bukan lagi dalam bentuk uang, gaji, atau honor, tapi lebih dari itu.

Sama seperti saya dulu memutuskan resign sebagai seorang managing editor, lalu bekerja di rumah, hanya sebagai freelance writer. Turun kasta sekali, katanya. Tapi lagi-lagi, ini bukan tentang jabatan. Toh saya masih melakukan pekerjaan yang jadi minat saya. Untuk apa bertahan di tempat yang saya sadar sudah tidak lagi berkah? Lebih baik saya melangkah ke luar yang penuh dengan ketidakpastian, tapi in sya Allah, Allah berkahi, Allah jaga, Allah jamin hidup saya.

Sama, seperti saat saya memutuskan resign kembali dari perusahaan yang baru 4 bulan menerima saya dengan hangat. Saya kembali pada ketidakpastian, yang dijamin oleh Allah. 

Saya tidak munafik, menjadi seorang penulis freelance dengan honor yang pasti datang namun tidak pasti kapan datangnya, masih suka membuat saya kadang ketar ketir. Tapi segala puji bagi Allah…saya belajar untuk tidak mengkhawatirkan sesuatu yang pasti akan datang, kok. Iya, kan? Istilahnya rezeki saya sudah pasti, saya sudah menjemputnya, mau datangnya kapan, saya tunggu saja dengan sabar.

Saat saya memutuskan ngantor lagi, pertama sih saya hanya ingin waktu senggang saya lebih manfaat, sehingga umur saya lebih berkah. Tapi kemudian saat saya jalani, bagaimana bermanfaatnya waktu kita, dan berkahnya umur kita, tidak melulu harus dengan bekerja, kok, atau silakan dibaca mencari uang.

Waktu itu saya juga berpikir, lumayan kalau saya bisa ngantor lagi, saya jadi punya gaji tetap, uang yang bisa saya nafkahkan untuk Allah juga in sya Allah jadi semakin besar juga. Tapi seiring berjalannya waktu, saya jadi merasa…kok saya jadi kerja demi uang ya? Saat itu saya seperti kembali dari ketidaksadaran saya. Saya merasa, keinginan untuk ngantor lagi itu seperti sebuah kepercayaan saya pada Allah yang terkikis karena bosan. 

Financial saya jelas terdongkrak, selain honor menulis yang saya terima, tiap tanggal 25 gaji masuk ke rekening saya. Lagi-lagi, bukan ini yang saya cari! Ada ketidaktenangan. Pertama mungkin karena saya sudah terbiasa ‘bekerja’ di rumah. Segalanya lebih hemat, saya merasa lebih terlindungi, dan lebih syar’i.

Saya ingat betul, sebaik-baik tempat bagi seorang wanita adalah rumahnya. Saya sadar, saya sedang ‘mendobrak’ pintu perlindungan Allah saat saya memutuskan untuk ngantor lagi. Setelah menjalani dan ternyata tidak nyaman, apalagi pekerjaan yang saya jalani tidak sesuai passion saya, rasanya seperti Tuhan lalu mengingatkan saya, ini lho…yang kemarin kamu minta dari Saya, sekarang sudah Saya beri. Apakah ini baik untukmu? Tidak sepenuhnya baik. Hati saya tidak nyaman karena melakoni pekerjaan yang tidak saya kuasai dan sukai, dan pekerjaan itu membuat saya berpotensi untuk tidak jujur.

Boleh lah orang lain bilang, sayang lho…gaji di sana lumayan, asuransi ada. In sya Allah…saya mantapkan kembali ke rumah, karena bukan uang yang saya cari saat ingin ngantor lagi. Ketenangan batin tetaplah utama. Berkah Allah terutama. Allah akan cukupkan segala sesuatu bagi saya. Asuransi-nya Allah saya rasa lebih menjamin saya.

Karena itulah, untuk semua wanita yang sedang bergolak dengan hatinya sendiri karena ingin resign namun takut pada ketidakpastian di luar sana, percayalah…bahkan di manapun kita berada, tak ada sesuatu yang pasti (kecuali kematian). Tempat terbaikmu adalah rumahmu. Penjamin segalanya dalam hidupmu adalah Tuhanmu, bukan bosmu, bukan perusahaanmu.

Kalau diniatkan untuk kebaikan, entah itu untuk diri sendiri, keluarga, atau bahkan anak…yakinlah…Allah Maha Tahu, Allah Maha Bijaksana. Ia akan cukupkan segalanya bagimu. Ia akan menjaminmu. In sya Allah…

Image

Advertisements
This entry was published on October 9, 2013 at 4:07 AM and is filed under Telling Story. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s